Senin, 21 Desember 2015

Seputar Isi Kandungan Al-Qur’an

Seputar Isi Kandungan Al-Qur’an
Oleh: Muhammad Ibdaul Hasan Am Asroh

I.             Pendahuluan
            Al-Quran adalah kitab suci agama Islam untuk seluruh umat muslim di seluruh dunia dari awal diturunkan hingga waktu penghabisan spesies manusia di dunia baik di bumi maupun di luar angkasa akibat kiamat besar.
Kitab yang diturunkan oleh Allah kepada kekasih-Nya baginda Rasul Muhammad Salla Allah ‘Alaihi wa sallam melalui perantaraan malaikat jibril adalah al-Qur’an yang mana didalamnya memiliki tujuan-tujuan tertentu. Tujuan pokok diturunkanya al-Qur’an adalah sebagai petunjuk akidah, petunjuk akhlak, petunjuk syariat dan hukum, qisoh-qisoh umat terdahulu dan juga berisikan berbagai pengetahuan dan ilmu-ilmu yang perlu diketahui oleh manusia. Dengan kata lain al-Qur’an diturunkan sesuai dengan tujuan diturunkanya.
Dalam agama Islam perkara yang paling utama yang harus dikatahui, diyakini dan diker jakan adalah berupa isi kandungan al-Qur’an, karena hal tersebut merupakan pokok atau hal paling inti dalam hubungan antara pencipta dan makhluk yang diciptakan. Telah disebutkan tadi bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat petunjuk-petunjuk mengenai isi kandungan al Qur’an karenanya pemakalah akan mengupas secara singkat dan cermat mengenai“isi seputar kandungan al-Qur’an”.
Namun sebelumnya manusia tidak terlepas dari kekurangan dan kesalahan, karenanya kritik dan saran senantiasa kami nantikan guna meningkatkan kualitas dan kelayakan karya ilmiyah untuk yang akan datang.
Dari tema di atas pemakalah akan membahas mengenai “apa itu al Qur’an...??? apa saja ruanglingkup yang ada di dalam al Qur’an...??? apa fungsi dari isi dari ruanglingkup di dalamnya...?




II.          Pokok-pokok Isi kandungan Al-Qur’an
A.    Pengertian Al Qur’an
            Secara Bahasa (Etimologi) Merupakan mashdar (kata benda) dari kata kerja Qoro’a yang bermakna membaca.[1]
Secara Syari’at (Terminologi) adalah Kalam Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yang diturunkan kepada Rasul dan penutup para Nabi-Nya, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas.
Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنْزِيلا
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur’an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur.” (Q.S al-Insaan:23)
Dan firman-Nya,
 إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ  
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” ( Q.S Yusuf:2)
Allah Subhânahu wa Ta’âlâ telah menjaga al-Qur’an yang agung ini dari upaya merubah, menambah, mengurangi atau pun menggantikannya. Dia telah menjamin akan menjaganya sebagaimana dalam firman-Nya,
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menunkan al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” ( Q.S al-Hijr:9)

B.     Ruang Lingkup Al-Qur’an
1. Pokok-pokok isi Al-Qur’an ada 5:
a. Akidah
Akidah adalah keyakinan atau kepercayaan. Akidah Islam adalah keyakinan atau kepercayaan yang diyakini kebenarannya dengan sepenuh hati oleh setiap muslim. Dalam Islam, akidah bukan hanya sebagai konsep dasar yang ideal untuk diyakini dalam hati seorang muslim. Akan tetapi, akidah untuk kepercayaan yang diyakini dalam hati seorang muslim itu harus mewujudkan dalam amal perbuatan dan tingkah laku sebagai seorang yang beriman.
Contoh:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. لخ.... اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
b. Ibadah dan Muamalah. Kandungan penting dalam al-Qur’an adalah ibadah dengan muamallah. Menurut al-Qur’an tujuan diciptakannya jin dan manusia adalah agar mereka beribadah kepada Allah. Seperti yang dijelaskan dalam (Q.S Az-zariyat 51:56)
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
Manusia selain sebagai makhluk pribadi juga sebagai makhluk sosial.manusia memerlukan berbagai kegiatan dan hubungan alat komunikasi. Komunikasi dengan Allah atau hablum minallah, seperti shalat, membayar zakat dan lainnya. Hubungan manusia dengan manusia atau hablum minanas, seperti silahturahmi, jual beli, transaksi dagang, dan kegiatan kemasyarakatan. Kegiatan seperti itu disebut kegiatan Muamallah, tata cara bermuamallah di jelaskan dalam (Q.S Al-Baqarah ayat 82).
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. Contoh lain mengenai jual beli dapat di lihat (Q.S Al-Baqarah 275).[2]
c. Hukum
Secara garis besar Al-Qur’an mengatur beberapa ketentuan tentang hukum seperti hukum perkawinan, hukum waris, hukum perjanjian, hukum pidana, hukum musyawarah, hukum perang, hukum antar bangsa. Contoh ayat tentang hukum waris: Surat al-Baqarah ayat 234
وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (beridah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis idahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
Hukum keluarga, mulai dari terbentuknya pernikahan sampai masalah talak, rujuk, ‘iddah, dan sampai masalah warisan. Ayat-ayat yang mengatur masalah ini tercatat sekitar 70 ayat. Surat al-Baqarah ayat 234.
d. Akhlak
Dalam bahasa Indonesia akhlak dikenal dengan istilah moral. Akhlak, di samping memiliki kedudukan penting bagi kehidupan manusia, juga menjadi barometer kesuksesan seseorang dalam melaksanakan tugasnya. Nabi Muhammad Salla Allah ‘Alaihi wa sallam berhasil menjalankan tugasnya menyampaikan risalah islamiyah, antara lain di sebabkan memiliki komitmen yang tinggi terhadap ahlak. ketinggian akhlak Beliau itu dinyatakan Allah dalam (Q.S al-Qalam ayat 4).
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
e. Kisah-kisah umat terdahulu. Kisah merupakan kandungan lain dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an menaruh perhatian penting terhadap keberadaan kisah di dalamnya. Bahkan, di dalamnya terdapat satu surat yang di namakan al-Qasas. Bukti lain adalah hampir semua surat dalam Al-Qur’an memuat tentang kisah. Kisah para nabi dan umat terdahulu yang diterangkan dalam Al-Qur’an antara lain di jelaskan dalam surat al-Furqan ayat 37-39.
وَقَوْمَ نُوحٍ لَمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَابًا أَلِيمًا
Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul. Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang lalim azab yang pedih;
وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا
dan (Kami binasakan) kaum 'Aad dan Tsamud dan penduduk Rass dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum-kaum tersebut.
وَكُلا ضَرَبْنَا لَهُ الأمْثَالَ وَكُلا تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا
Dan Kami jadikan bagi masing-masing mereka perumpamaan dan masing-masing mereka itu benar-benar telah Kami binasakan dengan sehancur-hancurnya.
f. Isyarat pengemban ilmu pengetahuan dan teknologi. Al-Qur’an banyak mengimbau manusia untuk menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti dalam (Q.S ar-Rad ayat 19).
أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ
Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,
dan al zumar ayat 9.Selain kedua surat tersebut masih banyak lagi dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi seperti dalam kedokteran,farmasi,pertanian,dan astronomi yang bermanfaat bagi kemjuan dan kesejahteraan umat manusia.
2. Dasar-dasar Al-Qur’an Dalam Membuat Hukum
a. Tidak memberatkan
لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
Misalnya:
1)      Boleh tidak berpuasa pada bulan Ramadhan.
2)      Boleh makan-makanan yang diharamkan jika dalam keadaan terpaksa/memaksa.
3)      Boleh bertayamum sebagai ganti wudhu’



b. Menyedikitkan beban
Dari prinsip tidak memberatkan itu, maka terciptalah prinsip menyedikitkan beban agar menjadi tidak berat. Karena itulah lahir hukum-hukum yang sifatnya rukhsah. Seperti: mengqashar sholat.
c. Berangsur-angsur dalam menetapkan hukum
Hal ini dapat diketahui, umpamanya; ketika mengharamkan khomr.
1)      Menginformasikan manfaat dan mahdhorotnya.
2)      Mengharamkan pada waktu terbatas, yaitu; sebelum sholat.
3)      Larangan secara tegas untuk selama-lamanya.
Fungsi dan Isi Kandungan Al-Qur’an
C. Fungsi Al-Qur’an
1.      Petunjuk bagi Manusia.
Allah Subhânahu wa Ta’âlâ menurunkan Al-Qur’ansebagai petujuk umar manusia,seperti yang dijelaskan dalam surat (Q.S AL-Baqarah 2:185 (QS AL-Baqarah 2:2) dan (Q.S AL-Fusilat 41:44)
2.      Sumber pokok ajaran islam.
Fungsi al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam sudah diyakini dan diakui kebenarannya oleh segenap hukum Islam. Adapun ajarannya meliputi persoalan kemanusiaan secara umum seperti hukum, ibadah, ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan, ilmu pengethuan dan seni.
3.       Peringatan dan pelajaran bagi manusia.
Dalam al-Qur’an banyak diterangkan tentang kisah para nabi dan umat terdahulu,baik umat yang taat melaksanakan perintah Allah maupun yang mereka yang menentang dan mengingkari ajaran Nya.Bagi kita,umat uyang akan datang kemudian rentu harus pandai mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah-kisah yang diterangkan dalam al-Qur’an.

4.      Sebagai mukjizat Nabi Muhammad Salla Allah ‘Alaihi wa sallam.
Turunnya Al-Qur’an merupakan salah satu mukjizat yang dimilki oleh nabi Muhammad Salla Allah ‘Alaihi wa sallam.
III.             Kesimpulan
           Al-Qur’an adalah wahyu Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yang merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Salla Allah ‘Alaihi wa sallam sebagai sumber hukum dan pedoman hidup bagi pemeluk Islam dan bernilai ibadah yang membacanya.
Ruang lingkup al-Qur’an
1.      Akidah adalah keyakinan atau kepercayaan. Akidah Islam adalah keyakinan atau kepercayaan yang diyakini kebenarannya dengan sepenuh hati oleh setiap muslim
2.      Ibadah dan Muamalah. Kandungan penting dalam al-Qur’an adalah ibadah dengan muamallah.
3.      Hukum. Secara garis besar Al-Qur’an mengatur beberapa ketentuan tentang hukum seperti hukum perkawinan, hukum waris, hukum perjanjian, hukum pidana, hukum musyawarah, hukum perang, hukum antar bangsa.
4.      Akhlak. Dalam bahasa Indonesia akhlak dikenal dengan istilah moral. Akhlak, di samping memiliki kedudukan penting bagi kehidupan manusia, juga menjadi barometer kesuksesan seseorang dalam melaksanakan tugasnya.
Fungsi al-Qur’an:
1.      Petunjuk bagi Manusia.
2.      Sumber pokok ajaran islam.
3.      Peringatan dan pelajaran bagi manusia.
4.      Sebagai mukjizat Nabi Muhammad Salla Allah ‘Alaihi wa sallam.


Daftar Pustaka
  Al-Qur’an.
  Lopa, Baharuddin, “Al-Qur’an dan Hak Asasi Manusia” (Yogyakarta: Bayu Indra Grafika, 1996).
  Suwiknyo, Dwi, “Komlikasi Tafsir”, (Yogyakarta: pustaka pelajar, 2010)..
  Munawir, A.W, “Kamus Al-Munawir Arab-Indonesia Lengkap”, (Yogyakarta: Pustaka progressif, 1984).
           


[1] A.W Munawir, Kamus Al-Munawir Arab-Indonesia Lengkap, (Yogyakarta: Pustaka progressif, 1984), hal. 1105.
[2] Dwi Suwiknyo, komlikasi tafsir, (Yogyakarta: pustaka pelajar, 2010) hlm, 127-130.

Hadis-Hadis Dzikir dan Do'a

Hadis Hadis Dzikir dan do’a
Oleh: Muhammad Ibdaul Hasan Am Asroh
I.                   Pendahuluan
Sebagai makhluk Allah Subhânahu wa Ta’âlâ  yang diberi akal serta nafsu, tentunya setiap manusia memiliki keinginan dalam hidupnya, baik itu keingingan duniawi maupun akhirat. Keinginan tersebut tentunya akan terlaksana jika manusia berikhtiar, berusaha serta berdoa kepada Yang Maha Mengabulkan, al-Mujīb al-Da’wah, yakni Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Berdoa sendiri juga berfungsi sebagai dzikir ‘amaliy sebagai cara taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.
Namun banyak dari manusia yang tidak mengerti tata cara berdoa yang baik kepada Tuhannya, ada juga dari mereka yang berdoa hingga melampaui batas. Maka dari itu dalam al-Qur`an Allah Subhânahu wa Ta’âlâ menjelaskan perintah serta tata cara berdoa yang baik kepada hamba-Nya supaya do`a mereka dikabulkan oleh-Nya. Begitu juga tatacara berdo’a juga terdapat di hadis-hadis Nabi Salla Allah ‘Alaihi wa sallam. Sebelumnya kami akan menunjukan apa itu dzikir, bentuk-bentuk dzikir beserta kalimat-kalimat yang termaktubnya. Begitu juga mengenai korelasi dzikir, pahala dibalik dzikir.
II.                Menjelaskan Makna Do’a
A.                Pengertian Do’a[1]
Do’a secara bahasa adalah memanggil, memohon, dari akar kata دَعَا يَدْعُوْ دُعَاءً Yang berarti memanggil. Menurut istilah Ulama’ Ahli Gramatika Arab (ahli nahwu), adalah mencari sesuatu atau memohon sesuatu dari orang yang lebih rendah kepada dzat yanng lebih tinggi.
Dan do’a menurut Ulama’ ahli Akhlak (tasawuf) adalah upaya untuk menghambakan diri kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ dengan mengakui segala bentuk kelemahan, serta mengharab dan memohon rahmat dan pertolongan kepadan-Nya, sebagai wujud dari kepatuhan diri kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Karena ada perintah Allah “ Berdo’alah kalian semua kepadaku, niscaya aku akan mengabulkannya untuk kalian “.
Berdo’a hukumnya wajib, walaupun tanpa berdo’a rahmat dan pertolongan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ juga akan turun. Dilalah al Amri dalam do’a menunjukan dilalah wajib. Artinya, dalam kondisi yang sebagaimanapun, do’a tetap diperintahkan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Dan kita wajib menjalankannya, karena do’a yang afdlal adalah do’a yang dalam konteks menjalankan perintah, bukan do’a dalam konteks meminta jatah (rezeki) dari Allah. Walaupun juga tidak bisa dipersalahkan, do’a dalam konteks yang kedua ini.
Rasulullah Salla Allah ‘Alaihi wa sallam bersabda;
الدُّعاَءُ سَلاَحُ المُؤمِن
Do’a adalah laksana pedang bagi orang mu’min.
Artinya, do’a adalah senjata, ketika kekuatan fisik, kekuatan inderawi sudah tidak memadai. Logikanya adalah seseorang itu akan mencabut pedang, kalau tangan kosong tidak mampu menghadapi. Seseorang akan memanjatkan do’a, ketika jiwa dan raganya tidak lagi mampu menanggung atau menghadapi masalah.
Makanya, dalam berdo’a, idealnya (umumnya) tidak memakai kalimat-kalimat yang mengandung unsur takabur, riya’, pamer ilmu dan lain-lain, kecuali shiqhat do’a yang sudah maurud dari Rasulullah Salla Allah ‘Alaihi wa sallam.
B.                 Dalil-Dalil Tentang Do’a
Sebenarnya hadis di atas sudah cukup untuk memberikan tendensi tentang anjuran do’a. Hanya saja penyebutan hadis di atas bukan untuk menunjukan kewajiban dzikir. Adapun dalil mengenai dzikir, dalam Al-Qur’an Allah memberikan jalan salah satu firmanya ialah:

 [2]  ربّكم ادعونى أستجب لكم وقال
Selain dalil itu, Nabi juga menerangkan mengenai dzikir, bahwasanya dzikir itu sebagian dari ibadah
عن النّعمان بن بشير رضي الله عنهما عن النّبيّ قال: الدّعاء هو العبادة, رواه أبو داود و التّر مذيّ: وقال حديث حسن صحيح.[3]
         Dan dalam al-Qur’an Allah sangat jelas menganjurkan akan pentingya berdo’a dalam Surat Al-A’rāf ayat 55 dan 56:
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (55) وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (56)
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an :

ﻭﺍﺩﻋﻮﻩ ﻣﺨﻠﺼﻴﻦ ﻟﻪ ﺍﻟﺪﻳﻦ

Artinya :"Dan berdo'alah kepada Tuhan dengan mengikhlaskan 'ibadat hanya untuknya" (Al-A'raf : 29).

         Dalam ayat ini Tuhan memerintahkan agar sekalian manusia berdo'a kepadanya & mengikhlaskan do'a itu hanya untuk-Nya.
C.    Bentuk-Bentuk Dzikir
1.      Dzikir dengan hati, yaitu dengan cara bertafakur, memikirkan ciptaan Allah sehingga timbul di dalam fikiran kita bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa. Semua yang ada di alam semesta ini pastilah ada yang menciptakan, yaitu Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Dengan melakukan dzikir seperti ini, keimanan seseorang kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ akan bertambah.
2.      Dzikir dengan lisan (ucapan), yaitu dengan cara mengucapkan lafazh-lafazh yang di dalammya mengandung asma Allah yang telah diajarkan oleh Rasulullah kepada ummatnya. Contohnya adalah : mengucapkan tasbih, tahmid, takbir, tahlil, sholawat, membaca Al-Qur'an dan sebagainya.
3.      Dzikir dengan perbuatan, yaitu dengan cara melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Yang harus diingat ialah bahwa semua amalan harus dilandasi dengan niat. Niat melaksanakan amalan-amalan tersebut adalah untuk mendapatkan keridhoan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Dengan demikian menuntut ilmu, mencari nafkah, bersilaturahmi dan amalan-amalan lain yang diperintahkan agama termasuk dalam ruang lingkup dzikir dengan perbuatan.
وَلا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لا تَشْعُرُونَ
"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.[4]

D.    Kalimat Thaiyibah
 Dari Abu Hurairah Radiyallahuanhu katanya: Rasulullah Salla Allah ‘Alaihi wa sallam bersabda: “ ada dua kalimat yang ringan pada lisan yakni mudah diucapkan tetapi berat sekali dalam timbangan di akhirat, dicintai oleh Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yaitu Subhanallah wa bihamdih dan Subhanallabil ‘azhim.”[5]
1. Bismillahirrahmanirrahim
         Diucapkan setiap kita mengawali segala perbuatan. InsyaAllah, jika lidah kita terbiasa, perbuatan ini sudah menjadi refleks kita, maka akan lebih mudah bagi kita untuk menghindari perbuatan buruk kerana kita sentiasa diingatkan bahawa Allah Subhânahu wa Ta’âlâ melihat perbuatan kita. Kalimat ini sekaligus mengingatkan kita, bahawa segala sesuatu adalah milik Allah Subhânahu wa Ta’âlâ, termasuk diri kita yang hina ini. Juga setiap perbuatan kita, hendaknya semua berada di garis yang ditetapkan Allah. Dalam sebuah hadis Rasulullah Salla Allah ‘Alaihi wa sallam bersabda: "Bahawa setiap perbuatan baik yang tidak dimulai dengan kalimat Basmalah, maka perbuatan itu tak berkah."
2. Alhamdulillah[6]
         Inti dari dzikir ini adalah ungkapan rasa syukur atas kurnia dan rahmat Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Sesungguhnya pancaran perasaan syukur adalah energi kehidupan yang sangat besar bagi manusia. Mereka yang paling banyak bersyukur bererti telah diberi banyak kelebihan berbanding orang lain. Mengenai hal ini, Allah telah berfirman: "Bahawa Allah akan menambah rahmat nikmatNya kepada mereka yang mampu bersyukur."[7] Dengan mengucap kalimat ini setiap selesai melakukan satu pekerjaan, manusia seakan menguatkan keyakinannya bahawa tak akan pernah terjadi sesuatupun tanpa campur tangan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Jika sesuatu itu baik, dirasakan sebagai pertolongan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Jika sesuatu itu kurang baik, tetap disyukuri dengan berkeyakinan bahawa itupun sudah lebih baik dari pada tidak sama sekali. Dan manakala seseorang telah terbiasa mengucap syukur untuk hal-hal yang kecil, maka ketika Allah Subhânahu wa Ta’âlâ menganugerahkan nikmat yang lebih besar, maka kenikmatan yang dirasakan orang tersebut akan berlipat ganda.
3. Astaghfirullah[8]
         Allah Subhânahu wa Ta’âlâ telah berfirman: "Orang-orang yang berbuat kekejian atau menzalimi dirinya lalu ingat kepada Allah, maka minta ampunlah untuk mereka atas dosa-dosa yang dilakukan."[9] Sungguh Maha Suci Allah Yang Maha Sempurna. Setelah Dia menciptakan manusia sebagai makhluk hidup yang secara sunnatullah bisa berbuat silap, sekaligus Dia menyediakan 'ubat' bagi kesilapan tersebut. Bagi mereka yang pandai meminum ubat ini, maka mereka tak akan terserang penyakit hati yang lebih serius. Allah Maha Pengampun, terutama bagi siapapun yang segera bertaubat dan sedar telah berbuat kesilapan. Umat Islam harus membasahkan bibir mereka dengan istighfar ini, sehingga noda-noda dosa yang sempat menempel sedikit demi sedikit setiap hari tidak segera menompok menjadi noktah hitam yang tebal. Semakin banyak noda-noda ini, akan menjadi semakin sulit untuk menghilangkannya. Maka benarlah bahawa kebanyakan kesalahan besar bermula dari kekeliruan-kekeliruan kecil yang tidak dibenarkan. Sayangnya, seringkali manusia terlambat menyedari kekhilafannya itu. Untuk menghindari kelambatan taubat, maka dianjurkan untuk istiqamah mengucapkan zikir ini setiap hari, terutama setelah shalat, walau dirasakan tak ada kesalahan yang diperbuat. Rasulullah Salla Allah ‘Alaihi wa sallam sendiri, yang sudah dijamin ma'sum, (terpelihara dari dosa), dalam sehari mengucap istighfar sekurang-kurangnya 70 kali.
4. Insya Allah
         Diucapkan ketika seseorang berniat hendak melakukan sesuatu di masa yang akan datang. Zikir ini akan mengingatkan kita, bahawa kehendak Allah Subhânahu wa Ta’âlâ adalah di atas segalanya. Tak seorangpun mengetahui apa yang akan terjadi di masa akan datang. Sebab itulah, tak akan pernah ada janji yang diikat 100 % antara manusia, kecuali dengan menambahkan kalimat, Insya Allah (QS Al Kahfi:23~24). Sayangnya, banyak orang menggunakan kalimat ini secara keliru, sehingga ada anggapan bahawa kalimat mulia ini diucapkan sebagai kelonggaran untuk tidak menepati janji. Perbuatan umum ini banyak terjadi dalam sebahagian masyarakat, sehingga membuat banyak orang memandang negatif kalimat ini. Adalah tanggung jawab kita bersama, kaum muslimin, untuk meluruskan pandangan ini. Dimulai dengan diri kita sendiri. Mari kita buktikan bahwa ucapan Insya Allah bukan bererti niat untuk melanggar, akan tetapi sebagai ikatan janji yang sudah pasti akan ditepati secara logika manusia, disertai tawakkal kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.
5. Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billaah (Hauqalah)
         Dzikir yang merupakan pengakuan terhadap kefanaan manusia dan kekuasaan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ ini diucapkan ketika seseorang mengambil keputusan (berazam). Kalimat thayyibah ini adalah pancaran dari sikap tawakal seseorang. Setelah dipertimbangkan dengan sewajarnya dan keputusan diambil, kita hendaklah bertawakkal kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ, yang dinyatakan dalam sikap menerima risiko apapun yang akan terjadi nanti akibat keputusan tersebut. (QS Ali Imran:159).
6. Laa Ilaaha Illallah[10]
         Banyak hadis Nabi Muhammad Salla Allah ‘Alaihi wa sallam yang menyebutkan keutamaan kalimat thayyibah ini. Bahkan disebutkan pula sebagai kunci pintu syurga. Dalam praktiknya, masih ramai kaum Muslimin yang melafazkan kalimat ini pada setiap kesempatan. Sayangnya, masih hanya sekadar refleks bibir saja. Padahal, andainya seseorang mengucapkan zikir ini sambil mengupas hikmahnya, sungguh nikmat dan manfaatnya akan diperoleh tiada penghujungnya kerana erti dari kalimat ini sangat luas. Dan manfaatnya pun boleh dirasakan di setiap waktu dan dalam keadaan apapun. Intinya satu - mengingat kebesaran Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.
7. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun
         Sungguh benar bahawa manusia adalah milik Allah Subhânahu wa Ta’âlâ dan setiap inci pergerakan tubuhnya berada dalam genggamanNya. Namun kenyataan bahawa segala sesuatu itu pasti kembali kepada pemiliknya iaitu Allah Subhânahu wa Ta’âlâ amat sulit untuk diterima oleh manusia. Zikir yang diucapkan di saat menghadapi musibah ini (bukan hanya apabila mendengar berita kematian sebagaimana yang biasa dilakukan dalam masyarakat kita hari ini) akan membantu kita untuk mengingati akan hal ini. InsyaAllah, dengan membiasakan diri dengan kalimat ini, kita menghadapi setiap peristiwa yang sudah menjadi takdir kita, seburuk manapun, dengan tenang. Semakin dalam seseorang menghayati hikmah zikir ini, semakin ringan dia menghadapi kehidupan yang berat ini.
E.     Korelasi Antara Do`a dan Dzikir
Dzikir itu ialah segala lafal (ucapan) yang disukai Allah, kita banyak membacanya untuk mengingat dan mengenang Allah subhānahuwata’ālā.[11]Jadi berdzikir juga mencakup dzikir–dzikir yang khusus, semua ibadah kita seperti kata–kata didalam shalat, seperti takbir, pujian pemujian dan bacaan, termasuk seluruh Al-Qur’an serta do’a–do’a.[12]
Yang perlu diingat adalah bahwa dzikir dan do’a adalah dua sisi yang sama dan melengkapi. Semua dzikir adalah do’a amali (do’a praktis) dan setiap do’a adalah dzikrullah. Karena do’a disamping mengandung sebuah bentuk pengakuan, juga mengandung ma’rifat dan kebutuhan akan Allah subhānahu wa ta’ālā.[13]
F.     Pahala Dzikir[14]
         Inilah salah satu dari rahmat dan kasih sayang Allah kepada kita yang sekali lagi kita tidak akan sanggup menghitungnya. Karena rasa cintaNya kepada kita agar kelak di hari kiamat kita mendapati kitab kita terisi dengan amalan shaleh yang banyak salah satunya dengan amalan yang singkat dan mudah ini tapi pahalanya sungguh tidak bisa kita gambarkan. Karena itu merugilah orag-orang yang mendapati kitabnya sangat sedikit amal shalehnya melainkan mereka akan menyesali dan menyesali dengan penyesalan yang sia-sia. Marilah wahai sahabatku kita istiqamah mengamalkannya semoga Allah memudahkannya untuk kita.
         Dari Abu Umamah radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihatku menggerakkan bibirku [ lidahku ] , maka beliau bertanya, “apa yg kamu ùcapkan wahai Abu Umamah?” aku menjawab “aku sedang berdzikir kepada Allah” Nabi berkata “maukah kutunjukkan pada (dzikir) yg lebih baik dari dzikirmu kepada Allah sepanjang malam dan siang hari? yaitu engkau mengucap: segala puji bagi Allah sebanyak ciptaan-Nya, segala puji bagi Àllah meliputi seluruh ciptaan-Nya, segala puji bàgi Allah sebanyak segala yang ada di langit dan di bumi, segala puji bagi Allah sebanyak segala yang terhitung dalam kitab-Nya, segala puji bagi Allah meliputi semua yang dapat dihitung dalam kitab-Nya, segala puji bagi Allah sebanyak segala sesuatu, dan segala puji bagi Allah meliputi segala sesuatu… kemudian hendaknya kau bertasbih kepada Allah dengan jumlah yang serupa dengan ini.” kemudian dia berkata, “engkau ajarkanlah pada orang-orang sesudahmu, maka engkau akan diberi pahala dari amal orang-orang itu” (Dikeluarkan oleh Imam Nasa’i 6/50 hadits no 9994, dan Ibnu Khuzaimah 1/371 hadits nomor 754 dan Imam Thabrani 8/238 hadits no. 7930 dan di Shahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam kitab Shahihul Jami’ no 2615).
III.             Kesimpulan
         Do’a secara bahasa adalah memanggil, memohon, dari akar kata دَعَا يَدْعُوْ دُعَاءً Yang berarti memanggil. Menurut istilah Ulama’ Ahli Gramatika Arab (ahli nahwu), adalah mencari sesuatu atau memohon sesuatu dari orang yang lebih rendah kepada dzat yanng lebih tinggi.
عن النّعمان بن بشير رضي الله عنهما عن النّبيّ قال: الدّعاء هو العبادة, رواه أبو داود و التّر مذيّ: وقال حديث حسن صحيح.[15]
         Dzikir dengan hati, yaitu dengan cara bertafakur, memikirkan ciptaan Allah sehingga timbul di dalam fikiran kita bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa. Semua yang ada di alam semesta ini pastilah ada yang menciptakan, yaitu Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Dengan melakukan dzikir seperti ini, keimanan seseorang kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ akan bertambah.
Bismillahirrahmanirrahim
         Diucapkan setiap kita mengawali segala perbuatan. InsyaAllah, jika lidah kita terbiasa, perbuatan ini sudah menjadi refleks kita, maka akan lebih mudah bagi kita untuk menghindari perbuatan buruk kerana kita sentiasa diingatkan bahawa Allah Subhânahu wa Ta’âlâ melihat perbuatan kita. Kalimat ini sekaligus mengingatkan kita, bahawa segala sesuatu adalah milik Allah Subhânahu wa Ta’âlâ, termasuk diri kita yang hina ini. Juga setiap perbuatan kita, hendaknya semua berada di garis yang ditetapkan Allah. Dalam sebuah hadis Rasulullah Salla Allah ‘Alaihi wa sallam bersabda: "Bahawa setiap perbuatan baik yang tidak dimulai dengan kalimat Basmalah, maka perbuatan itu tak berkah."
         Dzikir itu ialah segala lafal (ucapan) yang disukai Allah, kita banyak membacanya untuk mengingat dan mengenang Allah subhānahuwata’ālā.[16]Jadi berdzikir juga mencakup dzikir–dzikir yang khusus, semua ibadah kita seperti kata–kata didalam shalat, seperti takbir, pujian pemujian dan bacaan, termasuk seluruh Al-Qur’an serta do’a-do’a.



Daftar Pustaka
Al-Qur’an
Shiddieqy(Ash), Teungku Muhammad Hasbi. Pedoman Dzikir dan Do`a. (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 2002).
Hawwa, Sa’id, Pendidikan Spiritual, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2006).
R.W.J Austin dkk, Shalat dan Perenungan (Dasar–dasar kehidupan Ruhani menuurutI bnu Arabi), (Yogyakarta:Pustaka Sufi, 2001).
Ra'uf , Amrin, Fadhilah dzikir dan do’a, (Jogjakarta: Najah, 2013).
Din(al-) Al-Islam Yahya, Riyâda as-sahâliîn, (Ttp: Haramain, 2005).
Zuhri, Saifudin, kado dari pesantren, (Mojokerto Jatim: Al MaBa, RMI dan Aswaja Centre, november 2011).



[1] Saifudin Zuhri, kado dari pesantren, (Mojokerto Jatim: Al MaBa, RMI dan Aswaja Centre, november 2011) 4:26-27.
[2] Al-Islam Yahya al-din, Riyâda as-sahâliîn, (Ttp: Haramain, 2005), hal: 555.
[3] Ibid., 555
[4] (QS. Al-Baqarah : 152).
[5] Al-Islam Yahya al-din, Riyâda as-sahâliîn, (Ttp: Haramain, 2005), hal: 555.
[6] Amrin Ra'uf, Fadhilah dzikir dan do’a, (Jogjakarta: Najah, 2013), hal: 9.
[7] (QS : Ibrahim:7)
[8] Amrin Ra'uf, Fadhilah dzikir dan do’a, (Jogjakarta: Najah, 2013), hal: 7.
[9] (QS Ali Imran:135).
[10] Amrin Ra'uf, Fadhilah dzikir dan do’a, (Jogjakarta: Najah, 2013),hal: 10.
[11]Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy.Pedoman Dzikir dan Do`a. (Semarang: PTPustakaRizki Putra, 2002), 4.
[12]R.W.J Austin dkk, ShalatdanPerenungan (Dasar – dasar kehidupan Ruhani menuurutI bnu Arabi), (Yogyakarta:Pustaka Sufi, 2001), 36-37.
[13]Sa’id Hawwa.,Pendidikan Spiritual, (Yogyakarta:MitraPustaka, , 2006), 526.
[14] file:///C:/Users/osnec-Acer/Downloads/Berdzikir Sekali Mendapat pahala Berdzikir Sepanjang Malam dan Siang Hari _ Jilbab Online.htm.
[15] Ibid., 555
[16]Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy.Pedoman Dzikir dan Do`a. (Semarang: PTPustakaRizki Putra, 2002), 4.